Al Idrus, FT Kec. Tambelang-Bekasi
Air Bersih merupakan kebutuhan vital. Berbagai cara akan diupayakan manusia demi kecukupannya. Persoalannya, mendapatkan air bersih antar satu daerah dengan daerah lain berbeda kondisinya. Kondisi lingkungan mempengaruhi. Pada lingkungan pegunungan mungkin air bersih mudah didapat.
Akan tetapi menjadi berbeda di daerah bekas rawa atau dekat dengan pantai. Umumnya kalau tidak asin air berasa payau. Hal itu pula yang dialami masyarakat Desa Sukabakti, Kec. Tambelang, Bekasi. Bertahun-tahun lamanya masyarakat di Kp. Balong Gubuk Dusun I, dusun II & III harus rela mengkonsumsi air payau.
Bagi yang punya uang, mereka memiliki air bersih dalam kemasan galon atau jerigen. Demi air bersih untuk keperluan minum dan memasak, warga menghabiskan dana antara Rp.5-10 ribu per hari. Bila dikalkulasi dalam sebulan kadang menghabiskan biaya tidak kurang dari Rp.200 ribu. Hal itu yang dituturkan pak Onin, tokoh masyarakat setempat.
Maka, mimpi mendapatkan sarana air yang bisa menyediakan air bersih pun muncul. Hadirnya PNPM Mandiri Perdesaan menjadi berkah. Pada akhir tahun 2012 saat digelar musyawarah Desa masyarakat secara kompak mengusulkan mendesaknya pembangunan SAB atau Sarana Air Bersih. Pada MAD Penetapan tahun 2013, usulan tersebut disetujui dan didukung desa lain.
Pada saat MAD ditetapkan total pembiayaan dari BLM sebesar Rp. 75.566.500,- . Dana tersebut dimanfaatkan untuk membangunan bangunan SAB di empat titik di lokasi yang berbeda (RT/RW). Maka dimulailah pengerjaan SAB pada bulan September 2013. Tidak lebih dari tiga bulan akhirnya SAB tersebut berhasil dibangun.
Swadaya sebagai persyaratan berhasil dipenuhi warga. Dalam bentuk uang warga berhasilkan mengumpukan swadaya tidak kurang dari Rp.1,7 juta per lokasi. Perlu diketahui, satu lokasi menghabiskan BLM sekitara Rp.19 juta.
Bukan hanya pada swadaya, yang menarik adalah teknik penentuan lokasi tanah yang bakal dibor sebagai sumur. Sebagaimana kesepatakan warga, digunakanlah “pawang” khusus untuk menentukan lokasi yang tepat. Tentu dasarnya sugesti atau keyakinan karena secara teknis juga sulit dilakukan sehubungan dengan membengkaknya swadaya.
Namun, teknik tersebut nyatanya berhasil. Satu lokasi bangunan SAB terdiri (1) Konstruksi satu paket pengeboran (2) Bak penampung, (3) Instalasi pemipaan (4) Instalasi Listrik. Pada bulan Desember seluruh bangunan SAB di empat lokasi berhasil diselesaikan hanya saja pelaksanaan MDST molor hingga ke bulan Februari tahun 2014.
Dalam pengerjaanya, setiap bangunan SAB dikerjakan dua orang yaitu tukang dan laden. Tentunya dibantu warga sekitar 10 orang dengan sistem bergantian setiap harinya. Kerja keras pengurus TPK yang diketuai Nardi Hermawan, Sekretaris Sintan Suherman dan Karnadi Lubis selaku Bendahara.
Kini, bangunan SAB telah digunakan dengan baik. Di kampung balong gubung kampung I misalnya, setiap hari tidak kurang 1000 liter air bersih berhasil di pompa dari sumur. Selain untuk keperluan mencuci, wudhu, mandi, air juga digunakan untuk minum dan memasak. Jumlah pemanfaat di kampung itu adalah 15 KK (kelapa Keluarga) dengan rata-rata anggota 5 orang per KK.
Untuk pemeliharaan bangunan SAB, karena menggunakan aliran listrik, secara bergantian warga menyumbang iuran. Dua minggu sekali dibutuhkan dana sekitar Rp.20 ribu untuk membeli pulsa listrik. Wargapun bergantian membiayainya. Yang jelas lebih hemat dan efisien dibanding dengan membeli air galon atau dalam bentuk dirigen.
Pada saat MDST, tim pemelihara telah dibentuk dengan pengurus Onin selaku Ketua, dengan anggota Tio, Pardi dan Nimin. Mereka terus berupaya untuk melakukan pemeliharaan. Diantaranya untuk mengganti kran yang rusak, menjaga kebersihan sarana, serta menggiatkan warga untuk iuran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar